Koran Kampus
Aksi panggung salah satu peserta Ladang Seni

Aksi panggung salah satu peserta Ladang Seni

Ladang Seni: Musik Untuk Bumi

Genset menderu syahdu di sore itu. Temaram cahaya pelita bertebaran di sekitar selasar GWW. Tertanggal 12 Mei 2010, Komunitas Ladang Seni menggelar wahana apresiasi seni bagi mahasiswa IPB. Di malam yang basah pasca hujan itu, IPB kembali dihangatkan sajian musikal mahasiswanya. Sebanyak 15 kelompok musik asli kampus hijau berhasil menggetarkan rumah mereka.

Setelah MC membuka acara, penampilan tari saman mengawali event bertema “Musik untuk Bumi” itu. Semangat nasionalisme memang terasa kental di periode awal acara, karena selain tari saman, Zara yang tampil di urutan kedua juga membawakan lagu tradisonal khas Batak. Quadran pun mampu membuat selingan segar dengan distorsi yang diiringi aksi shreder-nya. Hembus nafas nasionalisme tidak serta merta lenyap pasca performa Quadran. Auxis mampu mengembalikan lagi semangat merah putih melalui lantunan “Indonesia Pusaka”-nya.

Aura Indonesiana mulai menghilang setelah The Yayi naik tahta. Band yang namanya terinspirasi dari nama seorang dosen ini berhasil menghantarkan untaian nada melodius di hadapan puluhan audiens. Setelah The Yayi, sebuah band yang dihuni para mahasiswa TPB mulai unjuk gigi. Old School, demikian mereka mengklaim namanya. Dengan dress code serba hitam, mereka seakan berkata bahwa IPB tak perlu khawatir karena masih ada mahasiswa muda yang berani berbunyi. Selain sajian musikal, panitia juga menghadiahkan kaos yang diberikan sebagai door prize untuk para pengunjung. Setelah berbagi rejeki, giliran Marcel unjuk kebolehannya. Gitaris yang telah menjuarai berbagai kompetisi ini khusus diundang ke IPB untuk menghibur dengan keahlian memainkan gitarnya yang skillful.

Keyboard yang sejak tadi tidak difungsikan akhirnya berbunyi setelah Clumsy Little Boy menjamah selasar yang terlihat bak panggung kecil itu. Lengkingan synth dan brass kerap terdengar selama mereka beraksi. Bada pop punk khas Clumsy Little Boy berkumandang, kini giliran rock N roll The Sigit yang dinyanyikan dengan apik oleh Toge feat Goreng. Lalu disambung skuad Destrait yang menyindir sosok wanita korban pergaulan bebas melalui lagu “Putri” milik Jamrud. Setelah Destrait, PhD melanjutkan tugas mewarnai malam. Berlanjut setelah PhD, blablabla memacu distorsi yang kemudian dilanjutkan High Volt. Setelah High Volt berjaya diatas pentas, giliran para pemuda bertopeng mengguncang malam. Unholy Vein, itulah nama band dari keempat mahasiswa IPB yang memainkan musik metal itu. Setelah Unholy Vein memanaskan malam dengan aksi enerjiknya, Cekiber Kisut bertugas sebagai netralizer. Suasana yang semula panas menjadi lebih sejuk. Namun ritme dinamika panggung kembali bertempo tinggi. Scars dengan jaya wijaya menutup acara dengan lagu-lagu Avenged Sevenfold. Audiens turut bergerak motil selama mereka beraksi. Dengan berakhirnya lagu kedua Scars, maka berakhir pulalah acara yang diprakarsai Komunitas Ladang Seni itu. Dalam sambutan penutupannya, Tison sebagai wakil dari pihak Ladang Seni menyatakan bahwa salah satu tujuan diadakannya acara ini adalah sebagai ajang apresiasi sekaligus pencarian bakat yang dimiliki mahasiswa IPB. Semoga tujuan besar itu benar-benar tercapai.

Ladang Seni adalah salah satu komunitas yang ada di IPB. Komunitas yang berdiri pada akhir tahun lalu itu dihuni para pecinta seni kampus rakyat ini. Acara “Musik untuk Bumi” adalah kegiatan kedua mereka yang terlaksana sebagai wujud kontribusi terhadap kemajuan apresiasi seni di IPB. Musik untuk Bumi awalnya akan dilaksanakan tanggal 7 Mei di tempat yang sama. Namun karena kendala perizinan, gelaran apresiasi seni itu baru terlaksana 5 hari kemudian. Meski demikian, esensi berkesenian yang ditampilkan komunitas ini tidak berkurang. Selain Ladang Seni, komunitas lain yang juga bervisi dalam pencapaian apresiasi seni diantaranya adalah Komunitas Jepang Onigiri, Komunitas Masyarakat Rumput dan Komunitas Wahana Telisik Sastra. Beberapa minggu sebelum Ladang Seni beraksi, Komunitas Jepang Onigiri telah menggelar Chibi Matsuri. Sementara beberapa bulan mendatang, Komunitas Masyarakat Rumput akan menggalang perkumpulan seniman teater seluruh Indonesia. Demikian pula dengan Komunitas Wahana Telisik Sastra, komunitas ini akan kembali menggelar Ruang Apresiasi Seni dan Sastra (RASSA) tanggal 31 Mei mendatang di ruang Pinus 2. Ragam komunitas dan kegiatannya tentu harus diapresiasi karena keberadaannya dapat menambah khazanah dinamika pergerakan mahasiswa di IPB. Eja/KK