Koran Kampus

[FOTO] Hacker “Usil” Serang Web Kemahasiswaan IPB

Hacker “Usil” Serang Web Kemahasiswaan IPB

Jika saat ini anda mengakses situs http://kemahasiswaan.ipb.ac.id/ , anda akan menemui keanehan. Ya,situs kemahasiswaan.ipb.ac.id itu sedang diserang oleh hacker “usil” yang mengatasnamakan diri zzz {z3r0 z0n3 z3r0} |cybertemanggung. Sampai berita ini diturunkan, akses ke situs Kemahasiswaan IPB tersebut belum juga bisa diakses dengan normal.

Selain itu, terjadi juga gangguan pada akses ke situs www.ipb.ac.id. Semoga perilaku “usil” yang tidak bertanggungjawab ini tidak terjadi lagi dan menjadi pembelajaran bagi IPB untuk terus meningkatkan proteksi pada web IPB. KK/Sir

Beasiswa PPA dan BBM tak kunjung “turun”….

Beasiswa PPA dan BBM tak kunjung “turun”….

Aksi panggung salah satu peserta Ladang Seni

Aksi panggung salah satu peserta Ladang Seni

Ladang Seni: Musik Untuk Bumi

Genset menderu syahdu di sore itu. Temaram cahaya pelita bertebaran di sekitar selasar GWW. Tertanggal 12 Mei 2010, Komunitas Ladang Seni menggelar wahana apresiasi seni bagi mahasiswa IPB. Di malam yang basah pasca hujan itu, IPB kembali dihangatkan sajian musikal mahasiswanya. Sebanyak 15 kelompok musik asli kampus hijau berhasil menggetarkan rumah mereka.

Setelah MC membuka acara, penampilan tari saman mengawali event bertema “Musik untuk Bumi” itu. Semangat nasionalisme memang terasa kental di periode awal acara, karena selain tari saman, Zara yang tampil di urutan kedua juga membawakan lagu tradisonal khas Batak. Quadran pun mampu membuat selingan segar dengan distorsi yang diiringi aksi shreder-nya. Hembus nafas nasionalisme tidak serta merta lenyap pasca performa Quadran. Auxis mampu mengembalikan lagi semangat merah putih melalui lantunan “Indonesia Pusaka”-nya.

Aura Indonesiana mulai menghilang setelah The Yayi naik tahta. Band yang namanya terinspirasi dari nama seorang dosen ini berhasil menghantarkan untaian nada melodius di hadapan puluhan audiens. Setelah The Yayi, sebuah band yang dihuni para mahasiswa TPB mulai unjuk gigi. Old School, demikian mereka mengklaim namanya. Dengan dress code serba hitam, mereka seakan berkata bahwa IPB tak perlu khawatir karena masih ada mahasiswa muda yang berani berbunyi. Selain sajian musikal, panitia juga menghadiahkan kaos yang diberikan sebagai door prize untuk para pengunjung. Setelah berbagi rejeki, giliran Marcel unjuk kebolehannya. Gitaris yang telah menjuarai berbagai kompetisi ini khusus diundang ke IPB untuk menghibur dengan keahlian memainkan gitarnya yang skillful.

Keyboard yang sejak tadi tidak difungsikan akhirnya berbunyi setelah Clumsy Little Boy menjamah selasar yang terlihat bak panggung kecil itu. Lengkingan synth dan brass kerap terdengar selama mereka beraksi. Bada pop punk khas Clumsy Little Boy berkumandang, kini giliran rock N roll The Sigit yang dinyanyikan dengan apik oleh Toge feat Goreng. Lalu disambung skuad Destrait yang menyindir sosok wanita korban pergaulan bebas melalui lagu “Putri” milik Jamrud. Setelah Destrait, PhD melanjutkan tugas mewarnai malam. Berlanjut setelah PhD, blablabla memacu distorsi yang kemudian dilanjutkan High Volt. Setelah High Volt berjaya diatas pentas, giliran para pemuda bertopeng mengguncang malam. Unholy Vein, itulah nama band dari keempat mahasiswa IPB yang memainkan musik metal itu. Setelah Unholy Vein memanaskan malam dengan aksi enerjiknya, Cekiber Kisut bertugas sebagai netralizer. Suasana yang semula panas menjadi lebih sejuk. Namun ritme dinamika panggung kembali bertempo tinggi. Scars dengan jaya wijaya menutup acara dengan lagu-lagu Avenged Sevenfold. Audiens turut bergerak motil selama mereka beraksi. Dengan berakhirnya lagu kedua Scars, maka berakhir pulalah acara yang diprakarsai Komunitas Ladang Seni itu. Dalam sambutan penutupannya, Tison sebagai wakil dari pihak Ladang Seni menyatakan bahwa salah satu tujuan diadakannya acara ini adalah sebagai ajang apresiasi sekaligus pencarian bakat yang dimiliki mahasiswa IPB. Semoga tujuan besar itu benar-benar tercapai.

Ladang Seni adalah salah satu komunitas yang ada di IPB. Komunitas yang berdiri pada akhir tahun lalu itu dihuni para pecinta seni kampus rakyat ini. Acara “Musik untuk Bumi” adalah kegiatan kedua mereka yang terlaksana sebagai wujud kontribusi terhadap kemajuan apresiasi seni di IPB. Musik untuk Bumi awalnya akan dilaksanakan tanggal 7 Mei di tempat yang sama. Namun karena kendala perizinan, gelaran apresiasi seni itu baru terlaksana 5 hari kemudian. Meski demikian, esensi berkesenian yang ditampilkan komunitas ini tidak berkurang. Selain Ladang Seni, komunitas lain yang juga bervisi dalam pencapaian apresiasi seni diantaranya adalah Komunitas Jepang Onigiri, Komunitas Masyarakat Rumput dan Komunitas Wahana Telisik Sastra. Beberapa minggu sebelum Ladang Seni beraksi, Komunitas Jepang Onigiri telah menggelar Chibi Matsuri. Sementara beberapa bulan mendatang, Komunitas Masyarakat Rumput akan menggalang perkumpulan seniman teater seluruh Indonesia. Demikian pula dengan Komunitas Wahana Telisik Sastra, komunitas ini akan kembali menggelar Ruang Apresiasi Seni dan Sastra (RASSA) tanggal 31 Mei mendatang di ruang Pinus 2. Ragam komunitas dan kegiatannya tentu harus diapresiasi karena keberadaannya dapat menambah khazanah dinamika pergerakan mahasiswa di IPB. Eja/KK

Jangan Heran Kalau Akses Internet (IPBNet) Down

Semua civitas akademik IPB yang akan browsing atau menggunakan fasilitas layanan internet kampus IPB (seperti WiFi) harus siap-siap ngenet di warnet atau menggunkan modem pribadinya. Seperti yang diberitakan pada situs IPB (www.ipb.ac.id), DKSI IPB akan melakukan upgrade router border IPBNet pada tanggal 24 dan 25 April 2010 yang kemungkinan akan mengganggu layanan koneksi internet kampus IPB selama proses upgrade berlangsung. Semoga upgrade router border IPBNet ini membuat layanan internet semakin baik.

Ngaret Satu Jam, Audiensi Masalah Autodebet SPP Hasilkan Putusan Baru

Audiensi antara pihak Rektorat IPB dengan mahasiswa gagal autodebet yang harusnya berlangsung pukul 15.30 sore tadi (30 Maret 2010) harus ngaret sekitar satu jam. Pihak rektorat beralasan sedang melangsungkan rapat dengan para dekan untuk membahas mahasiswa yang gagal autodebet. Audiensi yang dihadiri ratusan mahasiswa IPB ini dihadiri oleh beberapa perwakilan rektorat antara lain Bapak Drajat (perwakilan dari  Dit. AP) dan Bapak Agus (perwakilan dari Dit. Keuangan IPB).

Read More

Ironis, anak usia balita menjadi perokok aktif. Lihat video: http://www.facebook.com/video/video.php?v=1154874290837

Harga Sewa Gymnasium Naik, Jakpus KM IPB “Ribut”

Keputusan Manajemen Olahraga dan Seni IPB untuk menaikkan harga sewa fasilitas olahraga (termasuk gymnasium) menuai protes dari kalangan Kebijakan Kampus KM IPB (Jakpus).  Bentuk protes ini cukup unik yaitu menggunakan pamflet yang ditempel di lantai SC. Jakpus menilai kenaikan harga sewa gymnasium ini tidak sesuai dengan fasilitas yang tersedia saat ini. Fasilitas tetep NOL, begitu tulisan yang tertera pada pamflet tersebut, bahkan Jakpus mengajak mahasiswa IPB untuk bermain futsal di Rektorat lantaran tingginya harga sewa gym saat ini.

Menurut pantauan Koran Kampus (data Koran Kampus, Edisi 33, Maret-April 2010), pihak Manajemen Olah Raga IPB telah melakukan perbaikan beberapa fasilitas olahraga di IPB, antara lain merehab gedung bulutangkis IPB yang menghabiskan biaya hampir mencapai Rp 1 Milyar. Selain itu pihak Manajemen Olah Raga IPB telah berencana untuk merehab lapangan tenis, lapangan softball, atap gymnasium, dan lain-lain. Selain itu perlu diperhatikan bahwa dalam penyewaan gymnasium ada tiga kategori yaitu mahasiswa, staf/pegawai, dan umum, dimana kategori mahasiswa ditempatkan pada level paling murah.

Penolakan atas kebijakan kampus yang dilakukan Jakpus BEM KM IPB ini terkesan agak telat mengingat keputusan naiknya harga fasilitas olahraga IPB telah diberlakukan sejak September 2009 lalu. KK/Sir ;  Photos by KK/Syifa